Kendari – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mandala Waluya, bekerja sama dengan seluruh organisasi mahasiswa di bawah koordinasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM Lembaga), mengumumkan peluncuran Program Advokasi Sosial Terpadu pada Jumat, 19 April 2026. Inisiatif komprehensif ini dirancang untuk meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam isu-isu sosial kemasyarakatan dan memperkuat peran civitas akademika dalam pembangunan berkelanjutan di Kota Kendari.
Program yang resmi diluncurkan pada siang hari itu di Auditorium Gedung Rektorat Universitas Mandala Waluya melibatkan 27 organisasi mahasiswa dengan target jangkauan lebih dari 5.000 mahasiswa aktif dalam berbagai lini kegiatan. Peluncuran ini menandai komitmen serius mahasiswa Universitas Mandala Waluya untuk turut berkontribusi dalam pemecahan masalah sosial, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi lokal.
Latar Belakang dan Motivasi Program
Pemilihan waktu peluncuran Program Advokasi Sosial Terpadu ini tidak terlepas dari perhatian mendalam organisasi mahasiswa terhadap dinamika sosial kemasyarakatan yang berkembang pesat. Menurut data yang dikumpulkan LPM Lembaga selama enam bulan terakhir, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan sosial kemasyarakatan masih terbilang rendah, dengan hanya 32 persen mahasiswa aktif berpartisipasi dalam aksi nyata di luar kampus.
“Kami melihat ada gap yang cukup signifikan antara potensi yang dimiliki mahasiswa dengan realisasi kontribusi mereka kepada masyarakat,” ungkap Rinto Wardana, Ketua BEM Universitas Mandila Waluya periode 2025-2026, dalam konferensi pers sebelum peluncuran resmi. Data tersebut menjadi dasar kuat mengapa organisasi mahasiswa merasa perlu mengambil inisiatif strategis dan terukur untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa.
Program ini juga merupakan respons terhadap masukan dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, alumni, hingga tokoh masyarakat Kendari yang secara konsisten mengapresiasi potensi mahasiswa namun sekaligus mengingatkan pentingnya aktualisasi nyata. Dengan meluncurkan program yang terstruktur dan terintegrasi, BEM dan organisasi mahasiswa lainnya berharap dapat menciptakan ekosistem gerakan sosial yang berkelanjutan.
Struktur dan Pilar Utama Program
Program Advokasi Sosial Terpadu dirancang dengan empat pilar utama yang saling terhubung. Pilar pertama adalah Advokasi Pendidikan, yang fokus pada peningkatan akses dan kualitas pendidikan di kawasan tertinggal sekitar Kendari. Pilar kedua adalah Advokasi Lingkungan Hidup, dengan target penghijauan, pelestarian pesisir, dan edukasi pengelolaan sampah. Pilar ketiga merupakan Advokasi Pemberdayaan Ekonomi Lokal, yang mengangkat usaha kecil menengah (UMKM) dan koperasi. Terakhir, pilar keempat adalah Advokasi Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial.
Masing-masing pilar akan dijalankan oleh cluster organisasi mahasiswa yang relevan. Sebagai contoh, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan akan memimpin pilar pendidikan, sementara Organisasi Lingkungan Hidup Kampus akan mengelola pilar lingkungan. Struktur ini dirancang untuk memastikan keahlian, efisiensi, dan akuntabilitas dalam setiap kegiatan.
“Kami tidak ingin program ini menjadi sekadar slogan atau kegiatan seremonial. Setiap pilar memiliki target terukur, timeline jelas, dan mekanisme evaluasi berkala,” jelas Siti Nurhaliza, Kepala Divisi Advokasi BEM Universitas Mandala Waluya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setiap organisasi mahasiswa anggota program akan menyusun rencana aksi operasional yang spesifik dan relevan dengan bidangnya.
Mekanisme Implementasi dan Keterlibatan Mahasiswa
Implementasi Program Advokasi Sosial Terpadu akan dilakukan melalui berbagai mekanisme yang disesuaikan dengan kondisi kampus dan komunitas lokal. Pertama adalah pembentukan tim advokasi lapangan di setiap pilar yang terdiri dari mahasiswa volunter bersertifikat. Kedua, pelatihan dan capacity building untuk memastikan mahasiswa memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai sebelum terjun ke lapangan.
Ketiga, kemitraan strategis dengan institusi lokal seperti pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta untuk memperluas jangkauan dan dampak program. Keempat, pendokumentasian dan diseminasi melalui platform media kampus, termasuk majalah dinding, podcast, konten media sosial, dan liputan jurnalistik di LPM Lembaga.
“Kami juga menyediakan anggaran khusus untuk mendukung operasional program ini. Dari dana yang dialokasikan BEM, sekitar 40 persen akan digunakan untuk kegiatan lapangan langsung,” tambah Wardana. Transparansi finansial menjadi prioritas, dengan laporan berkala yang akan dipublikasikan melalui akun media sosial resmi BEM.
Mekanisme partisipasi mahasiswa dirancang sefleksibel mungkin untuk mengakomodasi keberagaman tingkat komitmen. Ada tiga level keterlibatan: (1) anggota inti yang terlibat secara konsisten dalam perencanaan dan pelaksanaan; (2) relawan aktif yang berpartisipasi dalam kegiatan lapangan; dan (3) duta advokasi yang berperan sebagai multiplier informasi di lingkungan akademik mereka.
Dukungan Pimpinan Universitas
Peluncuran program ini mendapat dukungan penuh dari pimpinan Universitas Mandala Waluya. Rektor Universitas Mandala Waluya, Prof. Dr. H. Bambang Suryono, M.Sc., hadir dalam acara peluncuran dan memberikan sambutan yang hangat namun juga penuh dengan ekspektasi.
“Program Advokasi Sosial Terpadu ini sejalan dengan visi universitas untuk menjadi lembaga pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga individu-individu yang memiliki kesadaran sosial tinggi dan siap berkontribusi aktif kepada masyarakat,” ujar Prof. Bambang dalam sambutannya. Beliau menekankan bahwa universitas memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitasi ruang, administrasi, maupun anggaran pendamping.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Dr. Eka Putri Widiastuti, S.H., M.Hum., juga mengapresiasi inisiatif ini sambil memberikan beberapa masukan strategis. “Saya melihat potensi besar dari program ini untuk menciptakan pembelajaran eksperiensial yang bermakna bagi mahasiswa. Namun, saya juga ingatkan untuk selalu menjaga standar akademik dan keselamatan peserta dalam setiap kegiatan,” tuturnya dengan nada yang konstruktif.
Peran LPM Lembaga sebagai Jembatan Komunikasi
Sebagai mitra utama dalam koordinasi program, LPM Lembaga memiliki tanggung jawab signifikan dalam mendokumentasikan dan mengkomunikasikan setiap tahap pelaksanaan kepada publik. Ketua Umum LPM Lembaga, Ahmad Rizki Pratama, mengungkapkan komitmen lembaganya untuk memberikan liputan jurnalistik yang objektif, akurat, dan inspiratif.
“LPM Lembaga tidak sekadar melaporkan apa yang terjadi, tetapi juga membantu membangun narasi yang kuat tentang nilai-nilai civitas akademika Universitas Mandala Waluya. Kami akan menghasilkan berbagai konten, dari artikel mendalam, fotografi dokumenter, hingga podcast yang menceritakan kisah-kisah inspiratif dari lapangan,” jelas Rizki dalam diskusi dengan penulis.
Komitmen ini tercermin dari alokasi sumber daya LPM Lembaga yang signifikan untuk Program Advokasi Sosial Terpadu. Minimal dua reporter akan ditugaskan untuk melakukan liputan berkelanjutan, sementara tim kreatif akan mengerjakan konten multimedia yang menarik dan engaging.
Dampak yang Diharapkan
Dampak jangka pendek yang diharapkan dari Program Advokasi Sosial Terpadu adalah peningkatan kesadaran dan partisipasi mahasiswa terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan. Target spesifiknya adalah minimal 5.000 mahasiswa aktif berpartisipasi dalam satu atau lebih kegiatan dalam tahun pertama pelaksanaan.
Untuk dampak jangka menengah, program ini diharapkan mampu menghasilkan minimal 50 inisiatif sosial lokal yang dimulai atau didukung oleh mahasiswa, serta membangun jaringan kemitraan yang kuat antara universitas dengan komunitas lokal. Dalam jangka panjang, program ini diproyeksikan dapat menciptakan budaya advokasi sosial yang melekat pada identitas dan DNA Universitas Mandala Waluya.
Tidak hanya itu, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan reputasi universitas di mata stakeholder lokal dan nasional, memperkuat positioning universitas sebagai institusi yang peduli dan relevan dengan dinamika sosial, serta menghasilkan alumni-alumni yang tidak hanya kompeten secara akademik tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial yang kuat.
Tantangan dan Strategi Mitigasi
Meski penuh antusiasme, para pemimpin organisasi mahasiswa juga realistis mengidentifikasi tantangan yang mungkin dihadapi. Tantangan pertama adalah sustainability atau keberlanjutan program mengingat perputaran kepengurusan organisasi mahasiswa yang terjadi setiap tahunnya.
“Kami sudah menyiapkan sistem dokumentasi lengkap dan program mentoring yang memastikan pengetahuan dan pengalaman dapat ditransfer ke generasi organisasi berikutnya,” ujar Siti Nurhaliza dalam menjawab pertanyaan mengenai sustainability.
Tantangan kedua adalah memastikan kualitas pelaksanaan di lapangan mengingat keterlibatan banyak organisasi yang beragam. Untuk ini, BEM telah menyiapkan panduan operasional komprehensif, sistem monitoring berkala, dan mekanisme quality assurance yang ketat.
Tantangan ketiga adalah mempertahankan momentum dan antusiasme mahasiswa dalam jangka panjang. Strategi mitigasinya adalah dengan menciptakan sistem reward dan recognition yang memotivasi, membuat kegiatan yang engaging dan bermakna, serta terus berinovasi dalam pendekatan advokasi.
Penutup
Program Advokasi Sosial Terpadu yang diluncurkan oleh BEM dan organisasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya pada 19 April 2026 ini merepresentasikan momentum penting dalam sejarah kehidupan kemahasiswaan kampus. Dengan struktur yang terukur, dukungan institusional yang kuat, dan semangat yang tinggi, program ini memiliki potensi besar untuk menciptakan dampak sosial yang signifikan dan berkelanjutan.
Kehadiran pimpinan universitas, antusiasme organisasi mahasiswa, dan komitmen LPM Lembaga untuk mendokumentasikan setiap langkah menunjukkan bahwa ini bukan sekadar inisiatif sesaat, tetapi sebuah gerakan yang sungguh-sungguh. Ke depannya, masyarakat Kendari dan Indonesia secara luas akan dapat menyaksikan bagaimana mahasiswa Universitas Mandala Waluya mengaktualisasikan nilai-nilai akademik, moral, dan sosial mereka melalui kegiatan-kegiatan nyata yang berdampak.
Waktu akan menunjukkan apakah program ini dapat mencapai semua target ambisius yang telah ditetapkan. Namun, dengan fondasi yang kuat dan komitmen yang genuine dari seluruh stakeholder, optimisme adalah sikap yang tepat untuk kita ambil pada saat ini.
Kendari, 19 April 2026
—
Artikel ini adalah hasil liputan jurnalistik atas peluncuran Program Advokasi Sosial Terpadu oleh BEM dan organisasi mahasiswa Universitas Mandala Waluya yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2026.